18.41
Diposkan oleh Imron Tohari

#1

Melukis senja
Burung pulang berkabung
kering dedaun;
musim tanpa Kekasih
bulan masihkah rona?

#2

Datang gerhana
Kukuruyuk bersahut
Langit ceria
Melihat senyum dara
Mengingat detak waktu


#3

Wah! musim senda
Menyambut pagi embun
Oi! Cicit burung
Cahaya di cemara
Ku menyebut indahNya-


#4

Malam saat bulan bertudung
Seranting: kraakk!
Sunyi lalu
Tertinggal bibir di cangkir kopi
Rindu kamu


#5

bintang menunjuk arah berlayar
tak ikan
oh! Paceklik
air mata barat ke timur
cari serpihmu
__________________________________________________
@ Imron Tohari_ lifespirit 9 March 2010 (TANKA)

TANKA : Bentuk sajak yang lain dalam sastera Jepang, mempunyai 31 patah kata, terkumpul dalam lima baris. TANKA terutama menyanyikan kasih ( bisa horizontal maupun vertical ), sambil haiku terutama melagukan musim tahun.(5-7-5-7-7). dalam perkembangannya, TANKA sedikit melongarkan masalah suku kata/syllable dalam konteks-konteks tertentu ( walau dalam hal ini masih terjadi pro dan kontra diantara pelaku sastra ).

Handoko F Zainsam ( Penyair, penggiat sastra ) : “Salah satu bentuk puisi Jepang klasik adalah tanka, yang pada awalnya adalah sebuah nyanyian. Tan artinya pendek dan ka artinya nyanyian. Tanka berevulusi dari sastra lisan/nyanyian, kayo, ke dalam tulis ketika dikumpulkan dan ditulis dalam Manyoshu, antologi puisi pertama yang memuat waka dari seluruh lapisan masyarakat Jepang.

Tanka muncul dalam ranah tulis puisi di jepang dalam bentuk cerita tentang legenda-legenda: Nihongi, atau Nishon Shoki, dan Kojiki. Di dalam kedua catatan tersebut terdapat puisi yang dibuat Susano no Mikoto, dewa penguasa lautan adik dewi Amaterasu Omikami, untuk istrinya Kushinada Hime.

Puisi tersebut sebagai awal pembuatan puisi dengan 31 suku kata (5-7-5-7-7) yang terbagi dalam dua bagian; kami no ku atau bagian awal tanka berisi 5-7-5 suku kata, dan shimo no ku atau bagian akhir tanka yang berisi 7-7 suku kata.... Lihat Selengkapnya

Ini yang menjadi dasar penulisan puisi Jepang lainnya; haiku, renga, haiku no renga yang notabenenya variasi tanka. Walau ringkas dapat dianggap sebagai puisi epigram.

Kata yang digunakan dalam dalam tanka biasanya meliputi kiasan atau metafora, citraan, dan symbol. Bahasa Jepang syarat dengan homofon dan homonym juga yang memungkinkan tanka mengandung kakekotoba atau permainan kata ganda agar dapat menggerakkan emosi seperti daya khasih sayang pembaca.

Kokoro di sini bukan hati atau perasaan dalam KBBI, tapi semangat, perasaan, dan konsepsi dalam puisi. Dan Kotoba meliputi; Kakekotoba, Makurakotoba, Jokotoba, Engo, Utamakura, Mitate, dan Honkadori.

Kesemuanya ini ada kemiripan dan kesamaan dengan teknik kritik sastra klasik di kita, semisal Jawa. Hanya beda penamaan

0 komentar:

Poskan Komentar