diunduh dari google

Demokrasi yang Gonggong


di atas tahta
nadanada denting
jalanjalan lesap
suarasuara dewan gonggong

di atas tahta
matahari garang
membakar!


( lifespirit 2010 )



Tekhnik Morse Poetika adalah upaya menyelipkan suatu makna baru dari adanya perekatan kata/kalimat dengan mengabaikan dan atau meniadakan simbolik tanda baca. ( lifespirit ).

Memanfaatkan tekhnik morsepoetika dalam puisi bisa menambah daya letup akan pesan makna yang ingin disampaikan ke penghayat. Apalagi dalam medium sajak/puisi pendek, tekhnik ini sangat-sangat memberi daya naratip pada cara penghayat untuk mengurai makna dari baris-baris singkat yang ada pada karya pendek dimaksud, sehingga pesan makna bisa diurai secara benderang.

Mari kita coba menyingkap morsepoetika yang ada pada puisi " Demokrasi yang Gonggong "

di atas tahta
nadanada denting > ; nada-nada ada dana denting
jalanjalan lesap > ; jalan-jalan anjal lesap
suarasuara dewan gonggong> ; suara-suara aras,asu dewan gonggong

di atas tahta
matahari garang
membakar!

Dari tekstual puisi di atas, morse poetika ada pada > "nadanada", "jalanjalan", "suarasuara" , dimana saya melakukan tekhnik lisensiapoetika dengan merekatkan kalimat-kalimat tersebut yang seharusnya berdasarkan EYD ada simbolik tanda baca penghubung (-), namun untuk mendapatkan kalimat/kata baru dengan makna baru, maka simbolik tanda baca tersebut saya tiadakan.

jadi dengan meniadakan tanda (-) pada tekhnik lisensiapoetika, morsepoetika tersebut muncul kepermukaan dari adanya hasil pembacaan kata/kalimat yang direkatkan sedemikian rupa tadi.

Memang gak bisa kita pungkiri bahwa ada perbedaan yang cukup krusial dalam kita memahami teks sajak secara Dengar ( menikmati dan mengurai makna sajak dengan indera telinga ) dan kita membaca teks sajak secara tulis ( menikmati dan mengurai makna sajak dengan indera baca mata ). Berkenaan dari hal yang saya terangkan tadi, maka penelaahan morsepoetika pada suatu karya akan lebih didapat pada saat kita membaca teks sajak secara tulis ( menikmati dan mengurai makna sajak dengan indera baca mata ).

dalam arti begini, pembacaan " teks nada-nada" pakai tanda baca penghubung (-) dengan "nadanada" tanpa pakai tanda baca penghubung (-), di indera dengar penghayat pastilah sama. Dan sangat sulit untuk kita tahu ada atau tidak ada pesan tambahan yang diselipkan pencipta karya pada sajak tersebut, tapi baru ketahuan bila kita gunakan indera baca mata pada teks sajak. ( tidak serta merta, tergantung dari kepekaan intuisi masing-masing penghayat yang tentunya berbeda satu dan yang lainnya).

Dan perlu diingat, terbaca atau tidaknya misteri kata yang diselipkan pada adanya perekatan kalimat licenciapoetika tersebut harus tetap tidak merubah alur dan makna secara general karya bersangkutan.

ctt: aras ; dalam bahaya (tentang raja dalam permainan catur)

salam lifespirit!

0 komentar:

Poskan Komentar